Peta “United States of Indonesia” 1946

 

Di perpustakaan universitas kebetulan ada arsip majalah terbitan lama, misalnya bundel majalah Time sejak tahun 1930 an sampai dengan tahun 1970 an. Majalah Time terbitan 23 Desember 1946 mencantumkan gambar Ir. Sukarno sebagai gambar sampul dan memuat artikel mengenai keadaan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan yang bahan utama nya berasal dari tulisan Robert Sherrod, koresponden majalah Time di Batavia, yang dikirim melalui kawat waktu itu. Salinan gambar sampul maupun artikel sepanjang 4 halaman tersebut sudah saya pindai dan saya cantumkan di bawah ini.

Ada beberapa hal yang menarik dari artikel ini yang bisa jadi tidak semua bisa kita peroleh dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah Indonesia atau dari arsip-arsip yang ada di dalam negeri, misalnya:

  • peta “defacto Indonesia” pada tahun 1946, 1 tahun setelah Proklamasi, di mana Belanda yang dengan perasaan terpaksa mengusulkan kompromi, agar kemerdekaan Indonesia dilakukan secara bertahap, di mana pada tahap itu wilayahnya hanya terdiri dari Jawa, Sumatera, dan Madura (mengenai perkembangan wilayah/peta “de facto” Indonesia 1945-1963 memang di cantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah).
  • pendapat Robert Sherrod bahwa lagu “Indonesia Raya”, irama nya sebagian “menjiplak” dari lagu yang sudah ada: “Boola-Boola” (lagu Belanda?)
  • dan mungkin yang paling penting, menjawab pertanyan hipotetik: Apakah setelah memprokamirkan kemerdekaannya waktu itu bangsa Indonesia benar-benar kelihatan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara mandiri? koresponden Robert Sherrod menjawab sendiri pertanyaan itu: “They have done surprisingly well, and with some assistance – Dutch or otherwise – I think they can.” Bahkan Van Mook sendiri mengatakan bahwa selama 5 tahun terakhir tersebut (1941-1945) bangsa Indonesia nampak mengalami proses pematangan yang cepat, yang bahkan belum pernah teramati selama 50 tahun sebelumnya.”
  • ada juga catatan sejarah yang bisa mengundang senyum: Perdana Menteri Syahrir waktu itu sempat menjalin hubungan akrab dengan John McKerreth, konsul jenderal Inggris. Ketika pasukan Inggris akhirnya ditarik dari Indonesia, Syahrir menyampaikan penghargaanya kepada Inggris sambil “menyentil” Belanda: “You introduced to our country some attractive traits of western culture that our people have rarely seen before from the white people they know: your politeness, kindness, and dignified self-restrain …”  Ketika Van Mook, sebagai wakil bangsa Belanda kelihatan tersinggung dikatakan sebagai “less civilized” ketimbang Inggris, Syahrir dengan kalem menjawab, yang kira-kira bunyinya: “don’t worry meneer.” “Pokoknya kalo pasukan sampeyan nanti mau angkat kaki dari Indonesia, Belanda bakal gue puji setinggi langit deh, melebihi bangsa Inggris .. ” 🙂

 

 sukarno_A0
 sukarno_C1
 sukarno_C2
 sukarno_C3
 sukarno_C4
Iklan