pocket camera & disposable flash lamp

pocket camera & disposable lamp

pocket camera & disposable lamp

Iklan

jenis-jenis kamera :-)

kamera plastik untuk pemula (harga Rp 750,- tahun 1976)

(A) kamera plastik untuk pemula (harga Rp 750,- tahun 1976)

 

 

kamera WYIWYG jadul dgn 2 lensa

(B) kamera WYIWYG jadul dgn 2 lensa

 

camera_old

(C) kamera angkatan pujangga baru 🙂

 

kamera paling "minimalis/spartan" di dunia hanya terdiri dari lubang, shutter, dan film

(D) kamera paling "minimalis/spartan" di dunia hanya terdiri dari lubang, shutter, dan film

 

kamera hasil kerajinan dari tanah liat :-)

(E) kamera hasil kerajinan dari tanah liat 🙂

 

camera obscura 1686 (tanpa lensa)

(F) camera obscura thn 1686 (tanpa lensa)

 

kamera siap rakit

(G) kamera siap rakit

 

camera interfacing

(G) camera & interfacing circuit

 

kamera buat orang mapan :-)

(H) kamera kalangan yuppiest 🙂

teknik fotografi utk science lab

Memperhatikan beberapa foto maupun video Profil 50 tahun ITB yang dibuat saat ini, meskipun sudah cukup bagus, namun mungkin ada beberapa butir saran untuk peningkatan bagi pembuatan versi-versi berikutnya:

(1) Pemilihan sudut pengambilan dan penggunaan lensa sudut lebar

Menurut yang saya amati, sudut pengambilan yang dipilih pada pembuatan video “profil 50 tahun itb” mungkin belum begitu optimum, belum nampak bisa menonjolkan kesan keindahan pandangan perspektif bangunan-bangunan di kampus. Sebagai perbandingan, saya menemukan kumpulan foto-foto kampus yang dibuat seorang alumnus itb yang sudut pengambilannya saya lihat “lebih optimum”:


http://irfanchemist.wordpress.com/2009/06/23/itb-campus

Di samping itu, penggunaan lensa sudut lebar (wide angle lens) untuk obyek-obyek tertentu baik bagian exterior maupun interior bangunan mungkin akan lebih bisa menonjolkan keindahan perspektifnya. Di bawah ini saya cantumkan contoh foto (dari internet), yang satu menunjukkan sebuah gang/koridor, yang bisa dijadikan referensi untuk men “shoot” koridor-koridor di dalam lab maupun di luar bangunan kampus ITB. Gambar yang satu “mengingatkan” saya pada pemandangan interior aula barat, jadi mungkin bisa dijadikan acuan untuk memilih sudut pengambilan yang optimal, misalnya pada saat acara-acara tertentu di aula barat.

wide_corridor 
 wide_aula

 

(2)Teknik Pencahayaan

Yang kedua adalah mengenai teknik pencahayaan untuk foto-foto di dalam ruang laboratorium. Saya sudah cukup sering memperhatikan foto-foto lab yang dibuat untuk brosur lembaga-lembaga riset terkemuka ataupun produsen peralatan lab hitech, yang seringkali menggunakan teknik pencahayaan yang khusus untuk lebih menonjolkan kesan “scientific” ataupun “hitech”

Ini misalnya dicapai dengan menggelapkan ruangan, lalu menambahkan cahaya dengan warna-warni tertentu, umumnya warna biru sebagai warna latar, di tambah warna merah. Kadang-kadang warna hijau berpendar/flourosence digunakan jika obyek yang ditampilkan memang sesuai, misalnya senyawa organik tertentu yang mempunyai efek berpendar.

tem_microscope

foto iklan peralatan mikroskop elektron. dapat dilihat penggunaan cahaya biru pada dinding latar belakang

inside_lab_00

foto lab yang kebetulan memang menggunakan perangkat optik seperti Laser. Tetapi di latar belakang nampak ditambahkan cahaya biru/ungu pada plafon

ion_implanter

foto iklan peralatan Ion-implanter utk wafer-fab, sudah jelas bahwa cahaya biru dan ungu di belakang dan di depan itu merupakan cahaya tambahan, di dalam sebuah ruang yang digelapkan

diffusion_furnace

peralatan tungku difusi di dalam wafer-fab. Di sini kebetulan memang dalam kenyataan digunakan cahaya kuning, jadi bukan penambahan cahaya yang disengaja

inside_lab_01

foto ini memperlihatkan tempat penyimpanan wafer pada sebuah wafer-fab. Nampak pada latar belakang ditambahkan cahaya merah/jingga

 

(3) Efek “CSI” 🙂

Kalau kita perhatikan adegan-adegan di dalam film seri TV CSI, akan sering kita jumpai adanya koleksi zat-zat kimia atau reagents yang warna-warni di dalam “lab. forensik” yang digunakan. Tentu saja zat-zat ini hanya bohong-bohongan (fake) , yang mestinya kurang tepat untuk ditiru di dalam pembuatan video profil sebuah lab/lembaga riset beneran :-). Tetapi tidak ada salahnya memilih zat-zat kimia (reagen) yang beneran yang warnanya memang menarik, seperti spiritus atau zat organik yang berpendar. Keempat foto di bawah ini memperlihatkan pemandangan atau adegan di dalam sebuah laboratorium forensik atau di TKP, 3 di antaranya dari film serial TV CSI. Dapat dilihat secara jelas penggunaan cahaya warna biru dan kuning yang dominan untuk menonjolkan kesan suasana “scientific”.

 

 csi2
 CSI: CRIME SCENE INVESTIGATION
 csi4
 csi3

kamera SLR Exakta (1936): WYSIWYG

 

slr_cross_section  exakta_camera 

Jika orang menyebut Jerman di tahun 1936, yang terbayang mungkin adalah peristiwa Olimpiade di Berlin. Pada saat yang sama, sebenarnya juga terjadi revolusi yang penting dalam teknologi fotografi, yaitu munculnya kamera Exakta, sebuah kamera SLR (Single Lens Reflex) untuk film 35 mm yang pertama hasil yasa Ihagee, sebuah perusahaan di kota Dresden. Kamera SLR adalah kamera di mana gambar bayangan yang dilihat oleh pemakai kamera sama dengan gambar bayangan yang menerpa permukaan film. Pada kamera yang lebih konvensional, terdapat dua perangkat lensa dengan jalur cahaya yang terpisah. Lensa yang pertama untuk menghasilkan bayangan nyata pada film, lensa yang kedua untuk menghasilkan bayangan maya pada jendela penglihatan (viewfinder). Ada juga jenis kamera Twin-lens Reflex, di mana sistem lensa yang kedua digunakan untuk membentuk bayangan nyata pada suatu kaca buram yang bisa dilihat oleh pemakai, mirip dengan penggunaan layar penampil LCD pada kamera digital dewasa ini.

Sebuah Photo-Lab kaki-empat :-)

kamera refleks lensa kembar

kamera refleks lensa kembar

contoh ruang-gelap utk pemrosesan film/foto

contoh ruang-gelap utk pemrosesan film/foto

tangki developer film negatif

tangki developer film negatif

alat proyektor pencetak foto

alat proyektor pencetak foto


Puncak ‘karir’ ku sebagai geek/experimenter justru terjadi ketika kelas I-II SMP.  Keuntungan punya orang tua dan kakak yang berprofesi sebagai guru a.l. adalah: aku jadi punya akses ke buku-buku perpustakaan beberapa sekolah. Di samping buku-buku cerita, aku juga mendapat pinjaman buku-buku mengenai IPA: termasuk buku-buku yg menjabarkan berbagai percobaan do-it-yourself yang cocok dilakukan anak usia SMP menggunakan bahan bekas dan peralatan sederhana yang ada di rumah. Yang paling kusukai adalah percobaan-percobaan mengenai optik. Misalnya, dengan menggunakan bola lampu pijar bekas yang di-isi air sebagai lensa obyektif, waktu itu sudah bisa kubuat alat semacam Overhead Projector untuk menayangkan gambar di plastik transparansi ke layar.

bagan proyektor sederhana

bagan proyektor sederhana

Tidak lama sesudah itu, karena harga lensa pembesar waktu itu juga tidak terlalu mahal, Rp 500,- hingga Rp 1000,- an,  proyektor versi 1.0 ku lalu kutingkatkan menjadi versi 2.0. menggunakan lensa “betulan”. Yang tadinya film/transparansi-nya harus diletak-kan dalam sikap tegak sekarang bisa diletak-kan mendatar. Tinggal kutambahkan sebuah cermin di depan lensa. Belakangan proyektor ini kujadikan sebagai alat untuk mencetak (afdruek) dan memperbesar (vergrooting) foto.

 

Tahun 1975:  Ketika itu mas AM, salah seorang kakakku sedang melakukan berbagai eksperimen untuk usaha, salah satunya di bidang fotografi. Beliau sempat melakukan capital investment berupa kamera dan peralatan pemrosesan film dan foto hitam-putih lengkap untuk pemrosesan film negatif dan cetak/perbesar foto. Kameranya adalah Yashica-635, sebuah jenis WYSIWYG 🙂 , jadi gak kalah dengan kamera digital berlayar LCD generasi sekarang ini seperti ditunjuk-kan pada gambar di atas. Pada kamera berlensa kembar ini, lensa di sebelah atas digunakan untuk menghasilkan citra di layar berupa kaca setengah buram, sehingga si fotografer bisa melihat seluruh obyek yang ditangkap oleh lensa utamanya.

Tahun 1976: ketika aku kelas 2 SMP, Setelah mas AM lebih fokus ke kegiatan yang lain, praktis aku menjadi “pewaris” perlengkapan photo-lab seperti di atas: kamera Yashica, penopang kaki-tiga (tripod), tangki pemroses film negatif, alat cetak/pemerbesar, alat pemotong kertas foto, dan perlengkapan lainnya.

Waktu itu sekolahku masuk siang. Sambil menunggu jam berangkat sekolah, jam 12:00, dari pada belajar paling juga gak konsent :), kugunakan waktu “nanggung” pagi-siang buat ngoprek, termasuk fotografi di atas. Ketika malam hari, tentu mudah menyulap kamar belajarku menjadi kamar-gelap, yang hanya diterangi lampu merah untuk memproses film atau kertas foto. Tetapi ketika pagi/siang hari, aku terpaksa membuat kamar gelap darurat di kolong meja: Meja makan sekelilingnya kututup rapat dengan berlapis-lapis kain batik milik Ibu, tentu kupilih yang corak warnanya gelap, entah itu Parangrusak, Sidomulyo, Sidomukti, ato-pun Sidorabi 🙂, yang penting warnanya harus gelap: hitam atau cokelat tua. Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala setiap kali melihatnya, beliau hanya memberi nasihat, “Le, … jam kerja di bawah meja nya jangan terlalu lama yo, soalnya tidak ada ventilasinya, padahal menggunakan zat-zat kimia.”  My mother was not an engineer, but she already pointed-out an important issue on “work-safety 101” lesson.

Cukup enak dan strategis juga sih punya sebuah photo-lab di rumah; Kalau kami atau ada saudara ada yang butuh mencetak pasfoto bisa kukerjakan, paling lambat 1 malam jadi, kalau hasil fotonya dikeringkan secara alamiah. Kalau mau lebih kilat lagi, bisa kugunakan pengering rambut, bahkan cukup 1 – 3 jam selesai. Dengan fasilitas di atas, sempat kulakukan beberapa percobaan efek dan teknik fotografi yang agak khusus, misalnya: membuat foto orang di dalam gelas atau botol, dengan melakukan 2 kali pengambilan gambar dari kedua obyek foto secara berturut-turut pada plat film yang sama. Ini dimungkinkan karena kamera Yashica ini semuanya serba manual.

Hal lain, penasaran untuk menirukan fim polaroid, pernah juga kucoba menggunakan kertas foto positif yang kugunakan sebagai “film”, kupasang di dalam kamera Yashica. Sudah tentu karena kepekaan kertas foto positif ini rendah, diperlukan angka lubang lensa (diafragma) yang lebih lebar, serta waktu buka (exposure time) yang lebih lama. Obyeknya harus benda tak bergerak, dan kameranya harus dipasang di tripod. Pernah pula kucoba membuat alat cetak dan pemerbesar foto (Vergrooter) menggunakan kotak kardus, lampu 150 watt, dan lensa/suryakanta yang tentu saja juga berhasil bekerja. It’s a very simple optical system. Hasilnya sudah kucoba kutulis menjadi sebuah buku. Sayangnya waktu itu di rumah belum ada mesin ketik, apalagi komputer, apalagi blog/internet … 🙂

Tahun 1977, rasanya aku sudah “mentog” dengan teknik fotografi hitam-putih. Aku ingin mengembangkan penguasaan teknologi pemrosesan film dan foto berwarna. Buku-buku sudah kubeli dan kubaca. Ketika ku tanyakan pada si babah/engkong pemilik toko fotografi terbesar di kota Solo apakah dia juga menjual kertas foto dan bahan-bahan kimia pemrosesan film dan kertas foto berwarna, si babah bilang aku harus pesan langsung ke supplier-nya: P.T. Fuji Color Film Co., Jl. Raya Mangga Besar Jakarta. Ketika perusahaan itu kusurati, eloknya mereka juga membalas surat yang ditulis seorang bocah SMP 🙂 dengan memberikan daftar lengkap/quotation harga kertas foto dan bahan-bahan lain-nya. Sayangnya, karena ini perusahaan grosir, belinya tidak bisa eceran, ada jumlah minimum yang harus dibeli, yang kalau dijumlah total mencapai sekitar Rp 35,000. Aku jadi urung dengan rencana “proyek” R&D yang ini. Ya bayangkan, waktu itu uang Rp 35,000 bukanlah jumlah yang kecil. Wong uang saku-ku sehari-hari paling Rp 100,-; harga mie-ketoprak di sekolah waktu itu paling Rp 50,- :-). Sebagai gambaran seberapa besar nilai artinya uang Rp 35,000 waktu itu: Bahkan 5 tahun kemudian pun tahun 1981, ketika aku mulai kuliah di ITB, Bandung, jumlah SPP yang harus dibayar hanya sekitar Rp 27,000 per Semester!. Sekali lagi per-semester lho ini, bukan per-bulan … :-).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teknik Foto High Dynamic-Range (HDR)

foto HDR candi Borobudur

foto HDR candi Borobudur - sumber : www . ihad . de

Ini setting di tahun 2008, 32 tahun kemudian, …

Karena keterbatasan “infrastruktur” :-), justeru 10 tahun ini praktis saya hampir tidak pernah membuat foto. Akhir tahun 2008 saya oleh seorang rekan diperkenalkan dengan Renate, seorang ibu berumur 60 tahunan, keturunan Jerman-Belanda yang tinggal di Duisburg, yang orang-tuanya-nya dulu pernah tinggal di Indonesia sebagai pengusaha perkebunan di jaman kolonial. Di samping bekerja keras sebagai “ibu kost”, bu Renate punya berbagai hobby, antara lain melakukan perjalanan pariwisata serta mengkoleksi foto-foto obyek pemandangan alam maupun budaya dari berbagai negara, termasuk yang dari Indonesia. Kebetulan di Duisburg ada kumpulan mantan Indonesian expatriat, siapa saja yang pernah lahir atau pernah bekerja/tinggal di Indonesia, umumnya memang orang-orang dari jaman tempo doeloe.

Tapi tidak seperti rata-rata orang lainnya, si ibu atau nenek yang satu ini cukup “computer savvy“, antusias menggunakan komputer sebagai tool dalam semua hal: untuk administrasi usaha kost-nya, untuk mempersiapkan presentasi tentang budaya Indonesia di kumpulan expatriat di atas, termasuk dalam mengedit foto-foto untuk slide-nya. Dari bu Renate ini lah saya pertama kali mendengar istilah foto “HDR” (High Dynamic Range).  Selama di Duisburg aku sebenarnya sudah biasa menganut pola diskusi liberal, di mana setiap orang bebas mengemukakan pendapat atau apa yang diketahuinya, terlepas apakah dia itu awam atau pun ahli pada topik yang di diskusikan. Tetapi kali ini kumerasa “ego“-ku agak “tercubit” juga di kuliahi mengenai teknologi pencitraan/imaging HDR oleh seorang nenek-nenek Jerman yang sehari-harinya bekerja sebagai ibu-kost, hahaha, … :-D.  Enggak juga sih, sebetulnya bu Renate lebih banyak mengetengahkan apa yang diketahuinya mengenai foto HDR dari sisi seni, dan beliau mengharapkan masukan knowledge dariku dari sisi teknik-nya. Kebetulan aku memang merasa cukup “dekat” dengan bidang ini, karena sudah puluhan tahun terlibat kegiatan di bidang mikroelektronika :-), termasuk pernah bekerja di sebuah lembaga yang juga mengembangkan produk sensor citra CMOS HDR. Waktu itu aku punya kesan, sensor citra dan kamera HDR yang dikembangkan kolega ku di ruang kantor sebelah itu aplikasinya sangat khusus, misalnya untuk membantu “night vision” pada kendaraan bermotor, belum terbayang bahwa teknologi HDR juga digunakan untuk menghasilkan karya seni fotografi.

Kebetulan saat ketemu bu Renate, Nopember 2008, aku juga lagi mencoba-coba paket Image-processing toolbox yang ada di Matlab. Dari internet saya dapatkan program untuk mengolah citra foto “biasa” untuk menghasilkan citra yang paling tidak “mendekati” mutu HRD. Dikatakan “mendekati”, karena umumnya untuk mendapatkan foto bermutu HRD menggunakan kamera “biasa” di masa ini, diperlukan pengambilan gambar lebih dari sekali dengan setting pencahayaan yang berbeda. Lalu gambar-gambar dari obyek yang sama ini kemudian di “gabungkan”, menggunakan S/W misalnya Photoshop atau GIMP. Tetapi bisa juga orang membuat foto “HRD tiruan” yang hanya berasal dari satu gambar asli saja. Ini misalnya bisa dilakukan menggunakan algoritma RETINEX. Dari sebuah program Matlab yang menerapkan algoritma ini, sudah saya coba mengolah beberpa gambar foto yang ada di Internet, dengan hasil seperti saya cantumkan di bawah ini. Informasi teknis yang lebih rinci beserta Program Matlab dari algoritma RETINEX di atas saya cantumkan di blog saya yang lain:  commonemitter

Gotham City (asli)

Gotham City (asli)

Gotham City (HRD)

Gotham City (HDR)

Jakarta (asli)

Jakarta (asli)

Jakarta (HRD)

Jakarta (HDR)

Candi Prambanan (asli)

Candi Prambanan (asli)

Candi Prambanan (HDR)

Candi Prambanan (HDR)

Kampus ITB (asli)

Kampus ITB (asli)

Kampus ITB (HDR)

Kampus ITB (HDR)