Conquest of Paradise (1492)

 

columbus_00

Columbus

 

peta dunia pra-Kolumbus

peta dunia pra-Kolumbus

 

film "Conquest of Paradise - 1492"

film "CoP - 1492"

 

 Sesaat menjelang Fajar, tanggal 3 Agustus 1492, Nina, Pinta, dan Santa Maria, tiga buah Caravelle – kapal penjelajah Spanyol – mengangkat jangkarnya, meninggalkan pelabuhan pelabuhan Palos de La Frontera, membelah lautan hitam menuju cakrawala bersaput kabut kelabu yang belum pernah ditembus pelaut generasi mereka. Columbus, yang berada di atas Santa Maria mengepalai ekspedisi itu.

Columbus sebenarnya lahir di Italia. Jiwa petualangannya mengarugni lautan telah di mulai saat remaja. Di usia 14 tahun, di dalam salah satu pelayaran, Columbus terdampar di pantai Portugal dan akhirnya menetap di negeri ini. Di dalam suasana kemunduran Eropa di akhir abad pertengahan (abad 16) Columbus mempunyai visi yang jauh untuk berlayar ke arah barat, menyeberangi lautan Atlantik untuk “menemukan jalan baru ke Asia”. Visi Columbus bukan didasari oleh jiwa berpetualang semata, tetapi juga oleh jiwa niaga seorang Mercantil: ekspedisi pelayaran ini diharapkan akan memberi akses kerajaan-kerajaan Eropa terhadap monopoli perdagangan rempah-rempah dengan India/Asia serta imbalan kedudukan baginya sebagai Stake-holder.  Permusuhan antara Eropa dan Turki-Utsmani (Ottoman Empire) memang telah menutup sebagian  jalur perdagangan langsung Eropa dengan Asia melalui darat. 

Di masa itu, Portugal telah merintis beberapa ekspedisi pelayaran yang menggunakan basis ilmu pengetahuan dan teknologi. Pangeran Heinrich, seorang bangsawan Portugal yang sangat antusias dengan dunia bahari dan bahkan mendirikan sebuah Akademi Ilmu Bahari waktu itu tidak berhasil diyakinkan Kolumbus untuk mendukung gagasannya.

Keberuntungan akhirnya datang juga bagi Columbus. Berakhirnya perang Reconquista dengan kemenangan Spanyol merebut Granada, pusat kekusaan Muslim yang terakhir di semenanjung Iberia membawa suasana optimisme baru. Columbus berharap denga suasana eupheria Spanyol yang sedang merayakan kemenangannya, Ratu Isabela dan Raja Ferdinand akan mendukung rencana pelayarannya.

Di masa Columbus, pengetahuan bahwa bumi berbentuk bola, dan jika seseorang melakukan perjalanan ke salah satu arah di sepanjang garis lintang yang sama, akan bisa mengelilingi bumi, dan sampai di tempat semula merupakan pengetahuan yang sudah mapan. Pada saat yang sama, pengetahuan Geografi mengenai dunia timur jauh, dalam batas tertentu juga telah sampai di Eropa. Perjalanan Marcopolo misalnya, telah membuka mata Eropa mengenai keberadaan negeri-negeri di Timur jauh seperti Cina yang kaya dan telah maju peradabannya. Jalur perdagangan rempah-rempah yang berasal dari India melalui jalan darat juga telah memberi gambaran berapa jauh jarak antara tanah India dari Eropa. Perkiraan mengenai panjang keliling bumi juga telah lama diketahui. Dengan data-data inilah Columbus membuat perkiraan jarak antara tanah Spanyol dan India bila dia menempuh jalur perjalanan melalui laut ke arah barat. Maka Columbus membuat proposal, lengkap dengan business-plan nya yang diajukan kepada pemerintah Spanyol untuk mendapat dukungan dan pembeayaan. Salah satu sebab mengapa proposal Columbus lama terkatung-katung adalah sikap sketptis para pakar Geografi Spanyol, padanan dari The National Geographic Society di masa ini, waktu itu mengenai “technical feasibility” dari rencana pelayaran Columbus. Para pakar rata-rata memperkirakan bahwa jarak antara pantai barat Eropa dan tanah India jika menempuh pelayaran ke arah barat lebih jauh dari apa yang dipaparkan oleh Columbus sewaktu dia presentasi dengan Lap-Top-nya di hadapan para Universitas Salamanca di tahun 1491.

Setelah melalui perdebatan dan penolakan, dengan kegigihannya, akhirnya ratu Isabella menyetujui proposalnya. Salah seorang penasehat Isabella waktu itu berpendapat, bahwa sebenarnya kalau
dipikir-pikir, beaya investasi yang harus dikeluarkan pemerintah Spanyol untuk membeayai sebuah ekspedisi kecil dengan 3 buah kapal layar tidaklah terlalu besar. Kalau dihitung-hitung resikonya, Columbus dan anggota ekspedisinya lah yang mempertaruhkan nyawanya. Jika teori Columbus salah, dan mereka tersesat dan terkatung-katung di tengah lauran, mereka sendiri yang akan kehilangan nyawa, sementara pemerintah Spanyol hanya kehilangan 3 kapal ekspedisi dan perlengkapannya.