the 99: tokoh-2 superhero baru yg ‘islami’

 

sh99_cover00

para superhero dalam serial komik "99"

 

Sejak tahun 2004, Naif Al-Mutawa, seorang pengusaha Kuwait yang bergelar Ph.D di bidang Psikologi Klinik menciptakan tokoh komik superhero yang di ilhami nilai-nilai spiritual Islam. Ini dituangkan dalam suatu serial komik yang secara bertahap menampilkan 99 pahlawan Superhero yang nama maupun sifat khas masing-masing di ilhami oleh 99 sifat Tuhan. Dengan keistimewaan masing-masing, mereka bisa bekerjasama dalam suatu tim pembasmi kejahatan yang tangguh. Misalnya, Superhero bernama Jabbar (Al-Jabbar, diri yang kuat, sang penakluk) mempunyai kekuatan fisik yang luar biasa. Noora (An-Nuur, sang cahaya), yang mendampingi nya mempunyai kemampuan melihat “cahaya kebenaran” di dalam aksinya menanggulangi kejahatan. Yang  juga menarik, ke 99 tokoh superhero ini digambarkan berasal dari berbagai bangsa. tokoh Fattah (Al-Fattah, sang pembuka), dari Indonesia mempunyai kemampuan membuka dan menutup pintu gerbang (gate) yang berada di manapun. Tokoh Daar (Ad-Daar, sang pemberi mudharat) dari Amerika mempunyai kemampuan menimbulkan rasa sakit pada musuhnya, lalu Mumita (Al-Mumit, diri yang mematikan), tokoh Superhero dari Portugis mempunyai kelincahan gerak yang luar biasa. Tokoh Batina (Al-Batin, diri yang tersembunyi), Superhero dari Yaman yang mengenakan Burqa direncanakan akan muncul dalam salah satu serial yang terbit tahun ini

.

Sumber rujukan: “islamic superheros going global”

 

tokoh "Jabbar Sang Perkasa"

tokoh "Jabbar Sang Perkasa"

 

Jabbar sang Perkasa dan Noora sang Cahaya

Jabbar sang Perkasa dan Noora sang Cahaya

 Sebagai pengusaha media pemegang lisensi dari Marvel, Al-Mutawa tadinya mempunyai usaha menerbitkan komik-komik Superhero yang sudah dikenal seperti Superman, Batman, dan Spiderman dalam bahasa Arab. Tetapi tokoh-tokoh superhero baru yang diciptakannya dalam serial “99” ini telah menjadi media yang mandiri mulai dikenal tidak saja di Kuwait dan negeri-negeri Arab bahkan telah menghasilkan pennjualan lisensi di beberapa negara lain seperti India, Bangladesh, Spanyol, Perancis, Inggris, Kanada, dan Amerika.

Perlu dicatat di sini bahwa nilai-nilai spiritual Islam di dalam kisah serial komik ini hanya berperan sebagai sumber ilham, dan tidak ditonjolkan secara eksplisit maupun eksklusif. Pada akhirnya nilai-nilai kebajikan yang dibawa adalah nilai-nilai yang sebenarnya bersifat universal. Penggunaan 99 nama atau sifat Tuhan sebagai sumber ilham mungkin mengingatkan bahwa setiap pribadi manusia sebenarnya mempunyai potensi mewarisi sebagian sifat-sifat tersebut yang apabila dipadukan dengan potensi pribadi yang lain akan bisa digunakan sebagai kekuatan yang tangguh dalam mewujudkan cita-cita masyarakat yang mulia.

Sebagai catatan lain, alur kisah komik serial 99 ini juga di ilhami sejarah Islam abad ke 13 sewaktu serbuan bangsa Mongol dari Timur pada tahun 1258 yang memporak porandakan bangunan peradaban Islam pada masa itu yang salah satu pusatnya ada di Baghdad. Ini kemudian dikemas menjadi sutau kisah fantasi, di mana tokoh Jabbar dan Noora harus berlomba dengan musuh utama mereka: Rughal dalam mencari dan memperebutkan keberadaan batu-batu manikam yang mengandung kode-kode rahasia, hasil enkripsi pemikiran para intelektual Baghdad serta mengandung kekuatan.

Al-Mutawa juga sudah mempunyai rencana untuk membuat film kartun/animasi dari kisah serial 99 di atas untuk diputar di TV.

pocket camera & disposable flash lamp

pocket camera & disposable lamp

pocket camera & disposable lamp

salat tarawih selebritis se nusantara

Dari sebuah posting di facebook saya menemukan sebuah karya lukisan yang nampaknya berasal dari jaman kerajaan Demak di Jawa di abad 15/16. Lukisan ini memperlihatkan adegan ketika Sunan Kalijaga memimpin sholat Tarawih berjamaah di Masjid Demak. Pada lukisan terlihat pamandangan bagian dalam/interior Masjid Demak: tiang, belandar/palang, kasu usuk, dan atap sirap sebuah bangunan berarsitektur Joglo. Yang juga unik, di belakang sang Sunan nampak para makmum, terdiri dari para “selebritis” yang sudah sangat terkenal tampak tekun mengikuti sholat Tarawih :-).

 

tarawih

shalat tarawih yg dipimpin Sunan Kalijaga yg di ikuti dengan tekun oleh para Makmum yang penampilannya sudah sangat dikenal masyarakat 🙂

jenis-jenis kamera :-)

kamera plastik untuk pemula (harga Rp 750,- tahun 1976)

(A) kamera plastik untuk pemula (harga Rp 750,- tahun 1976)

 

 

kamera WYIWYG jadul dgn 2 lensa

(B) kamera WYIWYG jadul dgn 2 lensa

 

camera_old

(C) kamera angkatan pujangga baru 🙂

 

kamera paling "minimalis/spartan" di dunia hanya terdiri dari lubang, shutter, dan film

(D) kamera paling "minimalis/spartan" di dunia hanya terdiri dari lubang, shutter, dan film

 

kamera hasil kerajinan dari tanah liat :-)

(E) kamera hasil kerajinan dari tanah liat 🙂

 

camera obscura 1686 (tanpa lensa)

(F) camera obscura thn 1686 (tanpa lensa)

 

kamera siap rakit

(G) kamera siap rakit

 

camera interfacing

(G) camera & interfacing circuit

 

kamera buat orang mapan :-)

(H) kamera kalangan yuppiest 🙂

teknik fotografi utk science lab

Memperhatikan beberapa foto maupun video Profil 50 tahun ITB yang dibuat saat ini, meskipun sudah cukup bagus, namun mungkin ada beberapa butir saran untuk peningkatan bagi pembuatan versi-versi berikutnya:

(1) Pemilihan sudut pengambilan dan penggunaan lensa sudut lebar

Menurut yang saya amati, sudut pengambilan yang dipilih pada pembuatan video “profil 50 tahun itb” mungkin belum begitu optimum, belum nampak bisa menonjolkan kesan keindahan pandangan perspektif bangunan-bangunan di kampus. Sebagai perbandingan, saya menemukan kumpulan foto-foto kampus yang dibuat seorang alumnus itb yang sudut pengambilannya saya lihat “lebih optimum”:


http://irfanchemist.wordpress.com/2009/06/23/itb-campus

Di samping itu, penggunaan lensa sudut lebar (wide angle lens) untuk obyek-obyek tertentu baik bagian exterior maupun interior bangunan mungkin akan lebih bisa menonjolkan keindahan perspektifnya. Di bawah ini saya cantumkan contoh foto (dari internet), yang satu menunjukkan sebuah gang/koridor, yang bisa dijadikan referensi untuk men “shoot” koridor-koridor di dalam lab maupun di luar bangunan kampus ITB. Gambar yang satu “mengingatkan” saya pada pemandangan interior aula barat, jadi mungkin bisa dijadikan acuan untuk memilih sudut pengambilan yang optimal, misalnya pada saat acara-acara tertentu di aula barat.

wide_corridor 
 wide_aula

 

(2)Teknik Pencahayaan

Yang kedua adalah mengenai teknik pencahayaan untuk foto-foto di dalam ruang laboratorium. Saya sudah cukup sering memperhatikan foto-foto lab yang dibuat untuk brosur lembaga-lembaga riset terkemuka ataupun produsen peralatan lab hitech, yang seringkali menggunakan teknik pencahayaan yang khusus untuk lebih menonjolkan kesan “scientific” ataupun “hitech”

Ini misalnya dicapai dengan menggelapkan ruangan, lalu menambahkan cahaya dengan warna-warni tertentu, umumnya warna biru sebagai warna latar, di tambah warna merah. Kadang-kadang warna hijau berpendar/flourosence digunakan jika obyek yang ditampilkan memang sesuai, misalnya senyawa organik tertentu yang mempunyai efek berpendar.

tem_microscope

foto iklan peralatan mikroskop elektron. dapat dilihat penggunaan cahaya biru pada dinding latar belakang

inside_lab_00

foto lab yang kebetulan memang menggunakan perangkat optik seperti Laser. Tetapi di latar belakang nampak ditambahkan cahaya biru/ungu pada plafon

ion_implanter

foto iklan peralatan Ion-implanter utk wafer-fab, sudah jelas bahwa cahaya biru dan ungu di belakang dan di depan itu merupakan cahaya tambahan, di dalam sebuah ruang yang digelapkan

diffusion_furnace

peralatan tungku difusi di dalam wafer-fab. Di sini kebetulan memang dalam kenyataan digunakan cahaya kuning, jadi bukan penambahan cahaya yang disengaja

inside_lab_01

foto ini memperlihatkan tempat penyimpanan wafer pada sebuah wafer-fab. Nampak pada latar belakang ditambahkan cahaya merah/jingga

 

(3) Efek “CSI” 🙂

Kalau kita perhatikan adegan-adegan di dalam film seri TV CSI, akan sering kita jumpai adanya koleksi zat-zat kimia atau reagents yang warna-warni di dalam “lab. forensik” yang digunakan. Tentu saja zat-zat ini hanya bohong-bohongan (fake) , yang mestinya kurang tepat untuk ditiru di dalam pembuatan video profil sebuah lab/lembaga riset beneran :-). Tetapi tidak ada salahnya memilih zat-zat kimia (reagen) yang beneran yang warnanya memang menarik, seperti spiritus atau zat organik yang berpendar. Keempat foto di bawah ini memperlihatkan pemandangan atau adegan di dalam sebuah laboratorium forensik atau di TKP, 3 di antaranya dari film serial TV CSI. Dapat dilihat secara jelas penggunaan cahaya warna biru dan kuning yang dominan untuk menonjolkan kesan suasana “scientific”.

 

 csi2
 CSI: CRIME SCENE INVESTIGATION
 csi4
 csi3