the dining philosophers

the dining philosophers

the dining philosophers

 

road-traffic deadlock

road-traffic deadlock

 Di dalam ilmu komputer, apabila dijumpai beberapa proses yang berjalan secara mandiri tetapi menggunakan sumber daya (resources) yang sama, akan terjadi kemungkinan keadaan saling menunggu secara timbal-balik (jika hanya melibatkan 2 pemakai/proses), atau secara “melingkar” (jika melibatkan lebih dari 2 pemakai/proses), yang disebut sebagai kebuntuan (deadlock), misalnya di dalam suatu proses multi-threading.

Contoh lainnya dari keadaan kebuntuan (deadlock) dalam peristiwa sehari-hari: adalah kebuntuan arus lalu-lintas di suatu persimpangan jalan, di mana setiap kendaraan berada dalam posisi saling-menghalangi kendaraan lainnya, dan pada saat yang sama saling menunggu kendaraan lainnya untuk bergerak maju dulu seperti juga ditunjukkan pada gambar di atas. Sebuah Applets kartun sederhana yang memperagakan sebuah deadlock dapat dilihat di sini .

Keadaan ‘saling-tunggu-secara melingkar’ di atas digambarkan seperti keadaan di mana 5 orang filsuf duduk melingkar dalam suatu jamuan makan (dinner) di sebuah meja bundar di restoran China. Untuk bisa memakan makanan China, setiap orang memerlukan sepasang (2 buah) supit (chopstick), jadi akan diperlukan 10 batang supit utk. kelima filsuf tersebut.  Masalahnya, saat itu restoran sedang penuh pelanggan hingga persediaan supit yg ada sampai tidak mencukupi.

Maka, sang pelayan restoran punya gagasan: “ah, bukankah para filsuf ini punya kebiasaan makan sambil sesekali berhenti dan melamun (berfikir), jadi toh mereka bisa menggunakan supit secara bergantian.” Maka di meja para filsuf tersebut hanya disediakan 5 batang supit yang ditaruh berselang-seling di antara kelima piring/mangkuk makanan mereka seperti terlihat pada gambar di atas.

Apa yang diharapkan si pelayan memang bisa saja terwujud, kalau saja para filsuf ini bisa “berkoordinasi”, kalau salah seorang sedang makan, filsuf yang duduk persis di sebelahnya harus berhenti makan dan berfikir, dan sebaliknya. Dengan demikian, setiap filsuf yang sedang mendapat “giliran” makan akan bisa menggunakan kedua batang supit yang ditaruh di sebelah kanan dan kirinya. Tetapi karena koordinasi seperti ini tidak ada, ada saat-saat di mana kelima filsuf secara serentak ingin makan, dan masing-masing (maksimum) hanya kebagian 1 supit, misalnya yang di sebelah kanan-nya, maka mereka hanya mengangkat sebatang supit itu dengan tangan kanannya, sambil menunggu supit di sebelah kiri mereka *selesai dipakai* oleh tetangganya, ini akan menyebabkan ke 5 filsuf tersebut saling menunggu selama-lamanya … 🙂

 

the dining psilosophers versi plesetan :)

the dining psilosophers versi plesetan 🙂

Iklan

pengamanan jembatan dgn kamera

 

Kamera pengawas di jembatan Golden Gate

Kamera pengawas di jembatan Golden Gate

 

Jembatan Golden Gate di San Fransisco yang selesai dibangun tahun 1937 an waktu itu merupakan jembatan gantung (suspension gate) yang paling panjang di dunia. Pada saat ini jembatan telah dilengkapi dengan sistem pengamanan termasuk kamera-kamera pengawas.
 

Jembatan Suramadu

Jembatan Suramadu

 

Karena jembatan Suramadu ini merupakan aset nasional yang bernilai Trilyunan rupiah, dan akan menjadi jalur uratnadi ekonomi yang penting yang menghubungkan pulau Madura dan Jawa, tentu sangat penting untuk mengamankan jembatan ini. Apakah di jembatan Suramadu juga sudah dipasangi Kamera-kamera pengawas?

panci dari bekas Boeing-747 :-)

 

Pesawat Boeing-747 yg di-besi-tua-kan

Pesawat Boeing-747 yg di-besi-tua-kan

 

Pesawat Bomber B52 yg di-besi-tua-kan

Pesawat Bomber B52 yg di-besi-tua-kan

 

Secara teoritis, usia teknis sebuah pesawat terbang, selama kekuatan setrukturnya masih memungkinkan dan suku-cadangnya masih ada yang memasok, bisa sangat lama. Tetapi masalahnya, semakin tua sebuah pesawat terbang,  beaya perawatannya akan semakin mahal. Dan suatu saat akan muncul produk penggantinya yang secara ekonomis biasanya lebih menguntungkan. Hal ini pada prinsipnya berlaku baik bagi pesawat komersial maupun pesawat militer. Usia ekonomis pesawat terbang jet komersial seperti Boeing-747 adalah sekitar 20-30 tahun. Pesawat yang secara ekonomis tidak mungkin dioperasikan lagi, idealnya adalah dihancurkan dan komponen serta bahan strukturnya di daur ulang kembali. Tetapi rupanya hal ini tidak mudah. Bekas pesawat seperti ini di Amerika, karena mungkin sulit di daur ulang, akibatnya menumpuk dan terkesan menjadi besi-tua, dan ditaruh di sebuah lapangan di padang pasir di Arizona yang digunakan sebagai “kuburan” bekas pesawat terbang (aircraft graveyard) , baik pesawat terbang sipil maupun militer seperti ditunjuk-kan di atas.

Mesin Stamping/Drawing Hidrolik

Mesin Stamping/Drawing Hidrolik

 

 

panci aluminium

produk panci aluminium

 

Alangkah baiknya kalau bahan struktur pesawat di atas bisa di daur ulang, misalnya dibuat peralatan dapur seperti panci, wajan, dandang/pengkukus, dan sebagainya :-). Mungkin yang diperlukan adalah peralatan pembentuk panci seperti mesin Stamping/Drawing mirip yang ditunjuk-kan di bawah ini. Hasilnya panci, kan keren kalau dijual dan di beri label: “panci ini dibuat dari pesawat Boeing-747”, atau “penggorengan ini dibuat dari pesawat Bomber B-52 milik USAF”. Ada yang berminat bisnis di bidang ini? :-).

Video yang menunjuk-kan proses Stamping untuk pembuatan panci dapat dilihat pada video ini .

Sepeda motor jaman dulu

Vespa Special

Vespa Special

Tahun 1979 aku kelas I SMA, naik kelasnya terpaksa mundur 1 semester, karena waktu itu terjadi semester “perpanjangan” dari Januari ke Juli. Orang tua ku membelikanku sebuah Vespa Special, kedaraan sekelas motor bebek. Saya lebih menyukai vespa karena di samping bagasi belakang, di bagian depan di samping ada tempat luas buat meletak-kan kaki, ada tempat memadai untuk membawa barang , dan juga nyaman untuk memboncengkan anak-kecil/keponakan dengan berdiri di depan. Sangat nyaman dan andal untuk dipakai di dalam kota dengan landscape seperti kota Solo. Tetapi karena power nya kecil (90 cc), saya hanya membawanya paling jauh sampai di kawasan pinggir (suburb) kota Solo, seperti misalnya Kartosuro dan kawasan Lanuma Adisumarmo. Suatu saat ketika pulang dari rumah teman di Lanuma Adisumarmo, senja hujan lebat, dalam terbatasnya daya pandang, kendaraanku menabrak becak. Becaknya tidak apa-apa, tapi vespaku lumayan penyek-penyek, makanya kemudian kutempelin sticker “Gembreng Mlampah” – < gembreng = kaleng bekas >.  (Foto di atas masih “meminjam” foto dari internet, sayang saya tidak punya foto kendaraan saya di atas).

Vespa Sprint 150 cc

Vespa Sprint 150 cc

Awalnya kendaraan di atas (Vespa Sprint) keluaran tahun 1969 dibeli oleh mas MZ, kakak sulungku di tahun 1974. Kendaraan itu membantu mas MZ yang bekerja di proyek Bengawan Solo yang kantornya ada di pinggiran barat kota Solo, dan kadang-kadang untuk me”lajo” ke Yogya untuk urusan skripsinya. Beliau waktu itu, sambil bekerja, sedang dalam penyelesaian TA nya di Jurusan Teknik Sipil UGM. Tetapi tahun 1981 ketika aku mulai kuliah di Bandung, kami “barteran” Vespa. Vespa Sprint kakakku yang 150 cc kupikir lebih tepat untuk dibawa ke Bandung, sementara Vespa special ku yang hanya 90 cc bisa digunakan mbak MS, isteri MZ untuk keperluan di dalam kota Solo. Tadinya cat aslinya warna Gold, tetapi setelah 3 tahun di Bandung, catnya ku ubah menjadi warna biru seperti di atas. Vespa sprint ini sewaktu masih di Solo pernah ku bawa sampai ke Tawang Mangu (ketinggian 1000 m), tempat wisata di lereng Gunung Lawu. Selama di Bandung, pernah kubawa sampai ke Bekasi dan Jakarta via Cikampek, lalu balik ke Bandungnya lewat Puncak. Juga pernah kubawa sampai ke Tangkubanperahu, tanpa ada masalah. a very rugged vehicle.

(Foto di atas juga masih “meminjam” foto dari internet, saya sebenarnya punya foto kendaraan tsb cuman, tidak saya dokumentasi).