Sebuah Photo-Lab kaki-empat :-)

kamera refleks lensa kembar

kamera refleks lensa kembar

contoh ruang-gelap utk pemrosesan film/foto

contoh ruang-gelap utk pemrosesan film/foto

tangki developer film negatif

tangki developer film negatif

alat proyektor pencetak foto

alat proyektor pencetak foto


Puncak ‘karir’ ku sebagai geek/experimenter justru terjadi ketika kelas I-II SMP.  Keuntungan punya orang tua dan kakak yang berprofesi sebagai guru a.l. adalah: aku jadi punya akses ke buku-buku perpustakaan beberapa sekolah. Di samping buku-buku cerita, aku juga mendapat pinjaman buku-buku mengenai IPA: termasuk buku-buku yg menjabarkan berbagai percobaan do-it-yourself yang cocok dilakukan anak usia SMP menggunakan bahan bekas dan peralatan sederhana yang ada di rumah. Yang paling kusukai adalah percobaan-percobaan mengenai optik. Misalnya, dengan menggunakan bola lampu pijar bekas yang di-isi air sebagai lensa obyektif, waktu itu sudah bisa kubuat alat semacam Overhead Projector untuk menayangkan gambar di plastik transparansi ke layar.

bagan proyektor sederhana

bagan proyektor sederhana

Tidak lama sesudah itu, karena harga lensa pembesar waktu itu juga tidak terlalu mahal, Rp 500,- hingga Rp 1000,- an,  proyektor versi 1.0 ku lalu kutingkatkan menjadi versi 2.0. menggunakan lensa “betulan”. Yang tadinya film/transparansi-nya harus diletak-kan dalam sikap tegak sekarang bisa diletak-kan mendatar. Tinggal kutambahkan sebuah cermin di depan lensa. Belakangan proyektor ini kujadikan sebagai alat untuk mencetak (afdruek) dan memperbesar (vergrooting) foto.

 

Tahun 1975:  Ketika itu mas AM, salah seorang kakakku sedang melakukan berbagai eksperimen untuk usaha, salah satunya di bidang fotografi. Beliau sempat melakukan capital investment berupa kamera dan peralatan pemrosesan film dan foto hitam-putih lengkap untuk pemrosesan film negatif dan cetak/perbesar foto. Kameranya adalah Yashica-635, sebuah jenis WYSIWYG 🙂 , jadi gak kalah dengan kamera digital berlayar LCD generasi sekarang ini seperti ditunjuk-kan pada gambar di atas. Pada kamera berlensa kembar ini, lensa di sebelah atas digunakan untuk menghasilkan citra di layar berupa kaca setengah buram, sehingga si fotografer bisa melihat seluruh obyek yang ditangkap oleh lensa utamanya.

Tahun 1976: ketika aku kelas 2 SMP, Setelah mas AM lebih fokus ke kegiatan yang lain, praktis aku menjadi “pewaris” perlengkapan photo-lab seperti di atas: kamera Yashica, penopang kaki-tiga (tripod), tangki pemroses film negatif, alat cetak/pemerbesar, alat pemotong kertas foto, dan perlengkapan lainnya.

Waktu itu sekolahku masuk siang. Sambil menunggu jam berangkat sekolah, jam 12:00, dari pada belajar paling juga gak konsent :), kugunakan waktu “nanggung” pagi-siang buat ngoprek, termasuk fotografi di atas. Ketika malam hari, tentu mudah menyulap kamar belajarku menjadi kamar-gelap, yang hanya diterangi lampu merah untuk memproses film atau kertas foto. Tetapi ketika pagi/siang hari, aku terpaksa membuat kamar gelap darurat di kolong meja: Meja makan sekelilingnya kututup rapat dengan berlapis-lapis kain batik milik Ibu, tentu kupilih yang corak warnanya gelap, entah itu Parangrusak, Sidomulyo, Sidomukti, ato-pun Sidorabi 🙂, yang penting warnanya harus gelap: hitam atau cokelat tua. Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala setiap kali melihatnya, beliau hanya memberi nasihat, “Le, … jam kerja di bawah meja nya jangan terlalu lama yo, soalnya tidak ada ventilasinya, padahal menggunakan zat-zat kimia.”  My mother was not an engineer, but she already pointed-out an important issue on “work-safety 101” lesson.

Cukup enak dan strategis juga sih punya sebuah photo-lab di rumah; Kalau kami atau ada saudara ada yang butuh mencetak pasfoto bisa kukerjakan, paling lambat 1 malam jadi, kalau hasil fotonya dikeringkan secara alamiah. Kalau mau lebih kilat lagi, bisa kugunakan pengering rambut, bahkan cukup 1 – 3 jam selesai. Dengan fasilitas di atas, sempat kulakukan beberapa percobaan efek dan teknik fotografi yang agak khusus, misalnya: membuat foto orang di dalam gelas atau botol, dengan melakukan 2 kali pengambilan gambar dari kedua obyek foto secara berturut-turut pada plat film yang sama. Ini dimungkinkan karena kamera Yashica ini semuanya serba manual.

Hal lain, penasaran untuk menirukan fim polaroid, pernah juga kucoba menggunakan kertas foto positif yang kugunakan sebagai “film”, kupasang di dalam kamera Yashica. Sudah tentu karena kepekaan kertas foto positif ini rendah, diperlukan angka lubang lensa (diafragma) yang lebih lebar, serta waktu buka (exposure time) yang lebih lama. Obyeknya harus benda tak bergerak, dan kameranya harus dipasang di tripod. Pernah pula kucoba membuat alat cetak dan pemerbesar foto (Vergrooter) menggunakan kotak kardus, lampu 150 watt, dan lensa/suryakanta yang tentu saja juga berhasil bekerja. It’s a very simple optical system. Hasilnya sudah kucoba kutulis menjadi sebuah buku. Sayangnya waktu itu di rumah belum ada mesin ketik, apalagi komputer, apalagi blog/internet … 🙂

Tahun 1977, rasanya aku sudah “mentog” dengan teknik fotografi hitam-putih. Aku ingin mengembangkan penguasaan teknologi pemrosesan film dan foto berwarna. Buku-buku sudah kubeli dan kubaca. Ketika ku tanyakan pada si babah/engkong pemilik toko fotografi terbesar di kota Solo apakah dia juga menjual kertas foto dan bahan-bahan kimia pemrosesan film dan kertas foto berwarna, si babah bilang aku harus pesan langsung ke supplier-nya: P.T. Fuji Color Film Co., Jl. Raya Mangga Besar Jakarta. Ketika perusahaan itu kusurati, eloknya mereka juga membalas surat yang ditulis seorang bocah SMP 🙂 dengan memberikan daftar lengkap/quotation harga kertas foto dan bahan-bahan lain-nya. Sayangnya, karena ini perusahaan grosir, belinya tidak bisa eceran, ada jumlah minimum yang harus dibeli, yang kalau dijumlah total mencapai sekitar Rp 35,000. Aku jadi urung dengan rencana “proyek” R&D yang ini. Ya bayangkan, waktu itu uang Rp 35,000 bukanlah jumlah yang kecil. Wong uang saku-ku sehari-hari paling Rp 100,-; harga mie-ketoprak di sekolah waktu itu paling Rp 50,- :-). Sebagai gambaran seberapa besar nilai artinya uang Rp 35,000 waktu itu: Bahkan 5 tahun kemudian pun tahun 1981, ketika aku mulai kuliah di ITB, Bandung, jumlah SPP yang harus dibayar hanya sekitar Rp 27,000 per Semester!. Sekali lagi per-semester lho ini, bukan per-bulan … :-).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

1 Komentar

  1. mulyanto said,

    Juli 14, 2009 pada 5:18 am

    Maaf bos ada jual kertas nya gk? kalau ada beri info harga kertas nya photo nya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: