ITB Student Orchestra (ISO)

Foto-foto di bawah ini menampilkan beberapa foto anggota ISO (ITB Student Orchestra) yang dibentuk tanggal 2 Maret 2005, beserta foto Fahrie, salah seorang ‘friend’ nya ISO. Foto dan informasi di bawah ini saya ambil dari situs Friendster ISO serta situs Friendster-nya Fahrie , mudah-mudahan daripada beliau-beliau tsb tidak berkeberatan khan ya … soalnya banyak sekali alumni ITB baik yang di Indonesia maupun di rantau tidak banyak bisa melihat perkembangan kampus ITB sekarang ini. Profil ITB, terutama mahasiswi … eh, iya … dan mahasiswa nya juga ding 🙂 … khan ber ‘variasi’, ada yang prestasinya di bidang ilmu, ada yang berprestasi di dunia bisnis, dunia sosial, olah-raga, seni, dan mungkin masih ada yang suka berantem :). Jadi biar lebih lengkap-lah kita melihat berbagai bagian daripada ‘wajah’ kampus kita …

itb_orchestra_01 itb_orchestra_02
itb_orchestra_031 itb_orchestra_04

Fahrie salah satu 'friend'-nya ISO

Fahrie salah satu 'friend'-nya ISO

Fahrie cs. pada suatu penampilan di panggung

Fahrie cs. pada suatu penampilan di panggung

Link : http://profiles.friendster.com/21851356

Director:
Bayu Mahendra Sadewo (Arch’07)

Conductor:
Muhammad Ghifary (IF’05)

The format that we use depends on the client’s objective
ITB Student Orchestra, ISO, was initiated in March 2, 2005 and officially born August 8, 2005.
ISO comes from Indonesia’s BEST TECHNOLOGICAL UNIVERSITY,ITB, which has NO faculty of Music…
That makes us an EXTRAORDINARY orchestra and we’re surely proud of that…

Events and Concerts:
– Opening Campus Center ITB
– Open House Unit ’05 – ITB
– HMT Inside – PT Pos
– Jendela Ide Chamber music – Jendela Ide
– Incollaborated with Sadaya Chamber Orch @ classicares – AACC
– Elektro Awards nite – ITB
– New Year Eve concert by ITB Orchestra – Sawunggaling Hotel
– Internal resital – Albar ITB
– ITB Fair
– Home Orchestra for self development seminar – STT Telkom
– Home Orchestra for self development seminar – ITB
– IEC Seminar (home orchestra) – ITB
– Home Orchestra for Romeo and Juliet musical drama – Maranatha Univ
– BioExpo – ITB
– Soft launching of MEDCO Energy new office – MEDCO Holdings, Jakarta
– Alsi ITB reunion – Albar & Altim ITB
– Purwacaraka charity concert
– PERSEMBAHAN AMMY UNTUK BANDUNG grand concert.
– Genia Returns Project Launching, STT Telkom
– Mozart concert with Iswargia Sudarno, NYO Conductor
– Collaboration concert with PSM ITB, Aula Barat
– Syukuran Wisuda SITH ITB, Campus Center 2 Maret 2007
– April String Festival, CCF 18 April 2007
– Ganesha Music Event, teater tertutup taman budaya Dago Tea House, 19 April 2007
– SMUN 3 Bandung, Mei 2007
– Welcome ceremony for ITB Freshmen year 2007, Sasana Budaya Ganesha 15 Agustus 2007
– Spice Festival 2007, Gedung Sate 9 Desember 2007
– Education Fair 2008,SMA 3 Bandung 17 Januari 2008
– Capital Market Seminar KSEP, Campus Centre 9 Maret 2008
– T-look merchandise festival, Gedung sate 22 Maret 2008
– ISF-international day, cc timur 19 April 2008
– TI garage sale, taman ganesha 15 Juni 2008
– INKM ITB 2008,Sasana Budaya Ganesha 14 Agustus 2008
– Concerto In G 10 (Konser Perdana ISO dengan beberapa UKM ITB lain seperti APRES, MUSI, PSM, dan LSS dan juga featuring Ammy Kurniawan), Aula Barat,
5 Desember 2008
– Dies Emas ITB: Sidang Terbuka Dies Emas ITB, memainkan beberapa lagu untuk merayakan Ulang Tahun ITB ke 50 bersama-sama dengan PSM dan KPA, SABUGA, 2 Maret 2009.
– Dies Emas ITB: Performance dari seluruh divisi musik ISO menampilkan solo piano, duet piano, duet piano-biola, double quartet strings, & solo guitar; Plaza Widya, 4 Maret 2009.
– Dies Emas ITB: Opera Gajah Emas (ISO bersama Purwacaraka Orchestra berkolaborasi dengan Unit Kesenian Budaya di ITB antara lain LSS,KPA,PSM,MBWG, IMGG,UKA,STEMA,LOEDROEK,dll), SABUGA, 8 Maret 2009.
– Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia (KENMI) 2009, 17 Maret 2009,
– Ganesha Harmonic by KM ITB, April 2009,
– Ganesha Music Event by APRES, 11 April 2009
-ARKKAVIDIA

Iklan

Foto corat-coret di gedung Oktagon

Foto corat-coret mahasiswa di sebuah kampus di Indonesia, nampaknya memprotes Himpunan (Organisasi Jurusan) yang di anggap “menyukai kekerasan”. Karena foto ini di buat setelah acara wisuda, mungkin ini ada hubungannya dengan ‘insinden’ yang terjadi pada saat wisuda.  This could be the case, because I have seen this kind of things happened in the past convocations in the mid 1990’s.  So, what happened now guys?

 

foto corat-coret di kampus, 25 April 2009 (mudah-2 fotografer-nya tidak keberatan foto beliau saya 'bajak' di sini :-) )

foto corat-coret di kampus, 25 April 2009 (mudah-2 fotografer-nya tidak keberatan foto beliau saya 'bajak' di sini 🙂 )

 

foto jika angka kontras-nya ditambah ...

foto jika angka kontras-nya ditambah ...

Telekomunikasi di masa Kartini hingga era kemerdekaan

Sarana transportasi merupakan prasarana yang sangat vital bagi setiap pemerintahan. Imperium Persia membangun jaringan jalan yang mencakup wilayah ribuan kilomneter,  yang dihubungkan oleh kurir berkuda dengan pos-pos peristirahatan. Imperium romawi membangun jaringan jalan di Eropa yangsebagian sisanya  masih bisa disaksikan hingga hari ini. Setelah revolusi Industri I, penggunaan tenaga mesin semakin meingkatkan efektivitas transportasi sebagai prasarana kolonialisme.

Jaringan kereta api di Jawa mulai dibangun tahun 1864, hanya beberapa tahun setelah negeri Eropa, bahkan mendahului Jepang. Ini karena begitu vitalnya peranan jaringan kereta api. Tahun 1894, Jakarta-Surayabaya telah terhubung jalur kereta api.  Jarak yang sebelum itu membutuhkan waktu perjalanan hingga 2 minggu kemudian bisa ditempuh selama 3 hari, itupun karena kereta api hanya di jalankan siang hari.

Demikian pula setelah era komunikasi sejak pertengahan abad 19, telegram dengan cepat menjadi alat komunikas yai yang vital. Tahun 1856, Jakarta dan Boutenzoekj (Bogor) telah dihubungkan dengan sebuah jalur komunikasi telegram. Ini dilakukan hanya sekitar 4 tahun setelah jaringan Telegram di bandugn di Belanda sendiri. Di  Eropa maupun Amerika  jaringan kabel telegram dibangun sepanjang jaringan rel kereta api. Untuk menghubungkan antar benua, sejak 1870 telah berhasil dibangun kabel telegram menyeberangi lautan atlantik. Jaringan telegraph global, terutama antara eropa dan Asia sangat didominasi oleh Inggris. Pada tahun 1870 kapal CS Hibernia memasang kabel telegram sepanjang 557 mil laut antara Singapura dan Batavia. Setahu sesudah itu, kapal yang sama, disertai oleh CSEdiburg menggelar kabel telegram antara Banyuwangi dan Darwin, Australia.

Tahun 1870 an juga ditandai dengan perkembangan teknologi telepon yang, sebagaimana telegraph juga menyebar secar apesat. Pada tahun 1900, jumlah pelanggan telepon di Hindia Belanda telah mulai banyak, 925 di Batavia, 371 di Semarang , 571 di Surabaya. Bahkan di Jepara, di mana R.A. Kartini tinggal, jumlah pelanggannya telah mencapai 37.

kamera SLR Exakta (1936): WYSIWYG

 

slr_cross_section  exakta_camera 

Jika orang menyebut Jerman di tahun 1936, yang terbayang mungkin adalah peristiwa Olimpiade di Berlin. Pada saat yang sama, sebenarnya juga terjadi revolusi yang penting dalam teknologi fotografi, yaitu munculnya kamera Exakta, sebuah kamera SLR (Single Lens Reflex) untuk film 35 mm yang pertama hasil yasa Ihagee, sebuah perusahaan di kota Dresden. Kamera SLR adalah kamera di mana gambar bayangan yang dilihat oleh pemakai kamera sama dengan gambar bayangan yang menerpa permukaan film. Pada kamera yang lebih konvensional, terdapat dua perangkat lensa dengan jalur cahaya yang terpisah. Lensa yang pertama untuk menghasilkan bayangan nyata pada film, lensa yang kedua untuk menghasilkan bayangan maya pada jendela penglihatan (viewfinder). Ada juga jenis kamera Twin-lens Reflex, di mana sistem lensa yang kedua digunakan untuk membentuk bayangan nyata pada suatu kaca buram yang bisa dilihat oleh pemakai, mirip dengan penggunaan layar penampil LCD pada kamera digital dewasa ini.

Sebuah Photo-Lab kaki-empat :-)

kamera refleks lensa kembar

kamera refleks lensa kembar

contoh ruang-gelap utk pemrosesan film/foto

contoh ruang-gelap utk pemrosesan film/foto

tangki developer film negatif

tangki developer film negatif

alat proyektor pencetak foto

alat proyektor pencetak foto


Puncak ‘karir’ ku sebagai geek/experimenter justru terjadi ketika kelas I-II SMP.  Keuntungan punya orang tua dan kakak yang berprofesi sebagai guru a.l. adalah: aku jadi punya akses ke buku-buku perpustakaan beberapa sekolah. Di samping buku-buku cerita, aku juga mendapat pinjaman buku-buku mengenai IPA: termasuk buku-buku yg menjabarkan berbagai percobaan do-it-yourself yang cocok dilakukan anak usia SMP menggunakan bahan bekas dan peralatan sederhana yang ada di rumah. Yang paling kusukai adalah percobaan-percobaan mengenai optik. Misalnya, dengan menggunakan bola lampu pijar bekas yang di-isi air sebagai lensa obyektif, waktu itu sudah bisa kubuat alat semacam Overhead Projector untuk menayangkan gambar di plastik transparansi ke layar.

bagan proyektor sederhana

bagan proyektor sederhana

Tidak lama sesudah itu, karena harga lensa pembesar waktu itu juga tidak terlalu mahal, Rp 500,- hingga Rp 1000,- an,  proyektor versi 1.0 ku lalu kutingkatkan menjadi versi 2.0. menggunakan lensa “betulan”. Yang tadinya film/transparansi-nya harus diletak-kan dalam sikap tegak sekarang bisa diletak-kan mendatar. Tinggal kutambahkan sebuah cermin di depan lensa. Belakangan proyektor ini kujadikan sebagai alat untuk mencetak (afdruek) dan memperbesar (vergrooting) foto.

 

Tahun 1975:  Ketika itu mas AM, salah seorang kakakku sedang melakukan berbagai eksperimen untuk usaha, salah satunya di bidang fotografi. Beliau sempat melakukan capital investment berupa kamera dan peralatan pemrosesan film dan foto hitam-putih lengkap untuk pemrosesan film negatif dan cetak/perbesar foto. Kameranya adalah Yashica-635, sebuah jenis WYSIWYG 🙂 , jadi gak kalah dengan kamera digital berlayar LCD generasi sekarang ini seperti ditunjuk-kan pada gambar di atas. Pada kamera berlensa kembar ini, lensa di sebelah atas digunakan untuk menghasilkan citra di layar berupa kaca setengah buram, sehingga si fotografer bisa melihat seluruh obyek yang ditangkap oleh lensa utamanya.

Tahun 1976: ketika aku kelas 2 SMP, Setelah mas AM lebih fokus ke kegiatan yang lain, praktis aku menjadi “pewaris” perlengkapan photo-lab seperti di atas: kamera Yashica, penopang kaki-tiga (tripod), tangki pemroses film negatif, alat cetak/pemerbesar, alat pemotong kertas foto, dan perlengkapan lainnya.

Waktu itu sekolahku masuk siang. Sambil menunggu jam berangkat sekolah, jam 12:00, dari pada belajar paling juga gak konsent :), kugunakan waktu “nanggung” pagi-siang buat ngoprek, termasuk fotografi di atas. Ketika malam hari, tentu mudah menyulap kamar belajarku menjadi kamar-gelap, yang hanya diterangi lampu merah untuk memproses film atau kertas foto. Tetapi ketika pagi/siang hari, aku terpaksa membuat kamar gelap darurat di kolong meja: Meja makan sekelilingnya kututup rapat dengan berlapis-lapis kain batik milik Ibu, tentu kupilih yang corak warnanya gelap, entah itu Parangrusak, Sidomulyo, Sidomukti, ato-pun Sidorabi 🙂, yang penting warnanya harus gelap: hitam atau cokelat tua. Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala setiap kali melihatnya, beliau hanya memberi nasihat, “Le, … jam kerja di bawah meja nya jangan terlalu lama yo, soalnya tidak ada ventilasinya, padahal menggunakan zat-zat kimia.”  My mother was not an engineer, but she already pointed-out an important issue on “work-safety 101” lesson.

Cukup enak dan strategis juga sih punya sebuah photo-lab di rumah; Kalau kami atau ada saudara ada yang butuh mencetak pasfoto bisa kukerjakan, paling lambat 1 malam jadi, kalau hasil fotonya dikeringkan secara alamiah. Kalau mau lebih kilat lagi, bisa kugunakan pengering rambut, bahkan cukup 1 – 3 jam selesai. Dengan fasilitas di atas, sempat kulakukan beberapa percobaan efek dan teknik fotografi yang agak khusus, misalnya: membuat foto orang di dalam gelas atau botol, dengan melakukan 2 kali pengambilan gambar dari kedua obyek foto secara berturut-turut pada plat film yang sama. Ini dimungkinkan karena kamera Yashica ini semuanya serba manual.

Hal lain, penasaran untuk menirukan fim polaroid, pernah juga kucoba menggunakan kertas foto positif yang kugunakan sebagai “film”, kupasang di dalam kamera Yashica. Sudah tentu karena kepekaan kertas foto positif ini rendah, diperlukan angka lubang lensa (diafragma) yang lebih lebar, serta waktu buka (exposure time) yang lebih lama. Obyeknya harus benda tak bergerak, dan kameranya harus dipasang di tripod. Pernah pula kucoba membuat alat cetak dan pemerbesar foto (Vergrooter) menggunakan kotak kardus, lampu 150 watt, dan lensa/suryakanta yang tentu saja juga berhasil bekerja. It’s a very simple optical system. Hasilnya sudah kucoba kutulis menjadi sebuah buku. Sayangnya waktu itu di rumah belum ada mesin ketik, apalagi komputer, apalagi blog/internet … 🙂

Tahun 1977, rasanya aku sudah “mentog” dengan teknik fotografi hitam-putih. Aku ingin mengembangkan penguasaan teknologi pemrosesan film dan foto berwarna. Buku-buku sudah kubeli dan kubaca. Ketika ku tanyakan pada si babah/engkong pemilik toko fotografi terbesar di kota Solo apakah dia juga menjual kertas foto dan bahan-bahan kimia pemrosesan film dan kertas foto berwarna, si babah bilang aku harus pesan langsung ke supplier-nya: P.T. Fuji Color Film Co., Jl. Raya Mangga Besar Jakarta. Ketika perusahaan itu kusurati, eloknya mereka juga membalas surat yang ditulis seorang bocah SMP 🙂 dengan memberikan daftar lengkap/quotation harga kertas foto dan bahan-bahan lain-nya. Sayangnya, karena ini perusahaan grosir, belinya tidak bisa eceran, ada jumlah minimum yang harus dibeli, yang kalau dijumlah total mencapai sekitar Rp 35,000. Aku jadi urung dengan rencana “proyek” R&D yang ini. Ya bayangkan, waktu itu uang Rp 35,000 bukanlah jumlah yang kecil. Wong uang saku-ku sehari-hari paling Rp 100,-; harga mie-ketoprak di sekolah waktu itu paling Rp 50,- :-). Sebagai gambaran seberapa besar nilai artinya uang Rp 35,000 waktu itu: Bahkan 5 tahun kemudian pun tahun 1981, ketika aku mulai kuliah di ITB, Bandung, jumlah SPP yang harus dibayar hanya sekitar Rp 27,000 per Semester!. Sekali lagi per-semester lho ini, bukan per-bulan … :-).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teknik Foto High Dynamic-Range (HDR)

foto HDR candi Borobudur

foto HDR candi Borobudur - sumber : www . ihad . de

Ini setting di tahun 2008, 32 tahun kemudian, …

Karena keterbatasan “infrastruktur” :-), justeru 10 tahun ini praktis saya hampir tidak pernah membuat foto. Akhir tahun 2008 saya oleh seorang rekan diperkenalkan dengan Renate, seorang ibu berumur 60 tahunan, keturunan Jerman-Belanda yang tinggal di Duisburg, yang orang-tuanya-nya dulu pernah tinggal di Indonesia sebagai pengusaha perkebunan di jaman kolonial. Di samping bekerja keras sebagai “ibu kost”, bu Renate punya berbagai hobby, antara lain melakukan perjalanan pariwisata serta mengkoleksi foto-foto obyek pemandangan alam maupun budaya dari berbagai negara, termasuk yang dari Indonesia. Kebetulan di Duisburg ada kumpulan mantan Indonesian expatriat, siapa saja yang pernah lahir atau pernah bekerja/tinggal di Indonesia, umumnya memang orang-orang dari jaman tempo doeloe.

Tapi tidak seperti rata-rata orang lainnya, si ibu atau nenek yang satu ini cukup “computer savvy“, antusias menggunakan komputer sebagai tool dalam semua hal: untuk administrasi usaha kost-nya, untuk mempersiapkan presentasi tentang budaya Indonesia di kumpulan expatriat di atas, termasuk dalam mengedit foto-foto untuk slide-nya. Dari bu Renate ini lah saya pertama kali mendengar istilah foto “HDR” (High Dynamic Range).  Selama di Duisburg aku sebenarnya sudah biasa menganut pola diskusi liberal, di mana setiap orang bebas mengemukakan pendapat atau apa yang diketahuinya, terlepas apakah dia itu awam atau pun ahli pada topik yang di diskusikan. Tetapi kali ini kumerasa “ego“-ku agak “tercubit” juga di kuliahi mengenai teknologi pencitraan/imaging HDR oleh seorang nenek-nenek Jerman yang sehari-harinya bekerja sebagai ibu-kost, hahaha, … :-D.  Enggak juga sih, sebetulnya bu Renate lebih banyak mengetengahkan apa yang diketahuinya mengenai foto HDR dari sisi seni, dan beliau mengharapkan masukan knowledge dariku dari sisi teknik-nya. Kebetulan aku memang merasa cukup “dekat” dengan bidang ini, karena sudah puluhan tahun terlibat kegiatan di bidang mikroelektronika :-), termasuk pernah bekerja di sebuah lembaga yang juga mengembangkan produk sensor citra CMOS HDR. Waktu itu aku punya kesan, sensor citra dan kamera HDR yang dikembangkan kolega ku di ruang kantor sebelah itu aplikasinya sangat khusus, misalnya untuk membantu “night vision” pada kendaraan bermotor, belum terbayang bahwa teknologi HDR juga digunakan untuk menghasilkan karya seni fotografi.

Kebetulan saat ketemu bu Renate, Nopember 2008, aku juga lagi mencoba-coba paket Image-processing toolbox yang ada di Matlab. Dari internet saya dapatkan program untuk mengolah citra foto “biasa” untuk menghasilkan citra yang paling tidak “mendekati” mutu HRD. Dikatakan “mendekati”, karena umumnya untuk mendapatkan foto bermutu HRD menggunakan kamera “biasa” di masa ini, diperlukan pengambilan gambar lebih dari sekali dengan setting pencahayaan yang berbeda. Lalu gambar-gambar dari obyek yang sama ini kemudian di “gabungkan”, menggunakan S/W misalnya Photoshop atau GIMP. Tetapi bisa juga orang membuat foto “HRD tiruan” yang hanya berasal dari satu gambar asli saja. Ini misalnya bisa dilakukan menggunakan algoritma RETINEX. Dari sebuah program Matlab yang menerapkan algoritma ini, sudah saya coba mengolah beberpa gambar foto yang ada di Internet, dengan hasil seperti saya cantumkan di bawah ini. Informasi teknis yang lebih rinci beserta Program Matlab dari algoritma RETINEX di atas saya cantumkan di blog saya yang lain:  commonemitter

Gotham City (asli)

Gotham City (asli)

Gotham City (HRD)

Gotham City (HDR)

Jakarta (asli)

Jakarta (asli)

Jakarta (HRD)

Jakarta (HDR)

Candi Prambanan (asli)

Candi Prambanan (asli)

Candi Prambanan (HDR)

Candi Prambanan (HDR)

Kampus ITB (asli)

Kampus ITB (asli)

Kampus ITB (HDR)

Kampus ITB (HDR)