Plato dan Op-Amp 741 :-)

plato2 oa741_scheme oa741dip

Di dalam elektronika, Op-Amp (Operational Amplifier) adalah nama suatu jenis rangkaian penguat sinyal (amplifier) yang berkinerja-tinggi, modular dan aneka-guna,  yang memudahkan para perancang perangkat elektronika menggunakannya dalam berbagai aplikasi pengolahan sinyal analog. Op-Amp 741 atau lengkapnya uA-741 adalah nama jenis Op-Amp komersial pertama yang terkenal, hasil-yasa perusahaan Fairchild pada tahun 1968,  menjadi nama yang legendaris hingga hari ini. Sedangkan nama Plato di kenal sebagai salah seorang filosouf Yunani (428-348 S.M.), guru dari Aristoteles, artinya “kakek-guru” dari Iskandar Agung (Alexander The Great). Lalu apa hubungan antara Op-Amp dan Plato? … hubungannya mudah-mudahan ya baik-baik saja … 🙂

Begini, di tahun 1986 an, pada kuliah Elektronika V, guru/dosen yang waktu itu sedang mengajar mengenai bab Op-Amp, menjelaskan apa yang disebut sebagi “model Op-Amp ideal”. Nah, beliau sempat berkomentar lebih kurang: “… perlu dicatat bahwa Op-Amp ideal semacam ini hanya merupakan suatu model, yang dalam kenyataannya di dunia ini tidak bakal kita jumpai, …. entah ya kalau di akhirat …”   kata beliau sambil bercanda. Waktu itu apa yang beliau katakan memang hanya saya anggap sebagai bercanda saja …

Dua-puluh tahun kemudian, 2006,  kebetulan saya membaca salah satu buku ilmiah-populer Roger Penrose (fisika-matematikawan dan kosmolog yang terkenal sesudah Stephen Hawking, Universitas Oxford, UK)  yang berjudul: Emperor’s New Mind . Di buku ini Penrose mencoba mengulas dari mana asal-usul kesadaran (consciousness) manusia dari sudut pandang Fisika – yang mudah-mudahan bisa dibahas pada kesempatan lain.  Di dalam salah satu bab pada buku tersebut Penrose mengetengahkan apa yang disebut sebagai mathematical reality, atau mathematical word, atau yang dikenal juga sebagai Platonic world.  Plato memang mengatakan, bahwa di luar “dunia nyata” atau pun “dunia materi” yang kita kenal sekarang ini, ada dunia lain, dunia non-materi yang merupakan “bentuk ideal” dari dunia materi. Maka kita bisa mengatakan, dunia materi adalah merupakan “bentuk tak ideal” dari “dunia Platonik” yang merupakan suatu dunia “acuan”. Di dalam dunia matematika/Platonik ini misalnya, di definisikan bentuk-bentuk geometri yang idal, misalnya sebuah lingkaran yang ideal sebagai suatu obyek matematika. Tetapi di dunia nyata, yang ada adalah obyek-obyek yang merupakan versi tak- ideal dari lingkaran tersebut, karena pasti mengandung ketidak sempurnaan, misalnya karena mengandung cacat-bentuk maupun karena mengandung ke-acakan, sekecil apa-pun. Jadi, kita bisa mengatakan, bahwa konsep “Op-Amp ideal” seperti yang dikatakan dosen saya di atas, mungkin tanpa beliau sadari, sebenarnya mengacu pada keberadaan suatu ‘Op-Amp’ yang didefinisikan di dunia Platonik “nun-jauh di sana”.

Sebagai Muslim, tentu saya meyakini akan adanya alam akhirat, yang akan dimasuki oleh manusia setelah alam dunia ini berakhir. Kebetulan saja terkait dengan “celetukan” dosen saya di atas yang bertanya apakah di akherat ada Op-Amp yang ideal?. … saya jadi mengaitkan Dunia Plato ini dengan alam akherat. Mudah-mudahan ini juga akan bisa kita bahas pada kesempatan lain.

Sekarang balik ke masalah Op-Amp yang saya tulis di atas. Sebuah Op-Amp ideal, artinya akan memiliki sifat-sifat sebuah penguat yang ideal, misalnya: impedansi inputnya tak berhingga besarnya . Ini artinya jika Op-Amp tersebut di tempatkan pada suatu untaian blok pengolah sinyal yang bertingkat, si Op-Amp ini tidak akan menarik arus dari blok penghasil/ pengolah sinyal di depan-nya, atau dengan kata lain tidak akan “membenani” nya. Hasilnya, penguatan sinyalnya akan lebih “utuh”. Penggunaan model Op-Amp ideal adalah untuk menyederhanakan analisis. Tetapi begitu kita menyebut “Op-Amp 741”, sebuah Op-Amp yang ada dalam dunia nyata, yang kalau di Bandung utara bisa dibeli di toko Anam di Balubur mall :-), maka sifat-sifatnya tidak akan sepenuhnya ideal atau less than ideal. Keberadaan suatu obyek yang less-than-ideal semacam ini adalah memang sudah merupakan bagian yang melekat dari kehidupan di dunia ini.

Berikut saya akan mencoba menjelaskan: “mana yang lebih sulit: bidang perangkat keras (hardware) ataukah perangkat lunak (software), dengan menggunakan anggapan adanya “dua jenis dunia” di atas: dunia materi dan dunia non-materi (Platonic).

“Sastera Iptek” :)

istlah “sastera IpTek” ini merupakan istilah yang saya buat sendiri, yang batasannya juga belum begitu jelas :-). Mungkin untuk sementara, semua karya sastera yang menambah pengetahuan maupun kesadaran pembaca-nya terhadap dunia IpTek saya anggap termasuk sastera IpTek.

Sebagai sebuah negara berkembang yang baru lahir tahun 1945, bisa dimaklumi, sastera Indonesia, bukan hanya yang ‘klasik’ seperti karya angkatan “Balai Pustaka” (1918), angkatan “Pujangga Baru” (1933), angkatan 45 (1945), maupun angkatan 66 (1966), bahkan hingga awal tahun 1970 an masih jarang sekali yang bermuatan IpTek. Mungkin baru pada pertengahan 1970 an dan awal 1980 an mulai muncul karya sastera dengan semangat yang lebih “pop”.  Pada saat yang bersamaan muncul majalah remaja seperti majalah “Gadis” yang ikut menjadi katailst munculnya novelis-novelist cerita remaja yang handal seperti Leila L. Chudori. Pada saat itu juga muncul buku-buku cerita remaja terjemahan seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga.

Era 1970 an dan 1980 an a.l. juga diwarnai oleh apa yang disebut sebagai “Sastera Kampus”, di mana muncul karya-karya sastera dengan setting kehidupan mahasiswa di kampus. “Cintaku di Kampus Biru” dan “Badai Pasti Berlalu” termasuk kategori ini. Dalam kategori ini pula saya ingin mengelompokkan novel-novelnya Mira W.  Penulis ini dikenal sebagai dengan kisah-kisahnya yang sering melibatkan setting di sebuah Rumah Sakit ataupun di Fakultas Kedokteran, dan istilah-istilah (jargon) dunia kedokteran, yang umumnya hanya para dokter atau mahasiswa kedokteran yang mengerti. Ini saya anggap sebagai termasuk sastera Iptek.

Di tahun 2007 an muncul seorang penulis yang saya pandang sangat tidak “konvensional” yang benar-benar menegaskan sisi sebuah sastera IpTek. Andre Hirata, yang karya-karyanya cukup sarat dengan berbagai asupan ilmu pengetahuan.

Karya sastera barat yang bermuatan IpTek tentu sudah lama ada. Hampir semua film barat yang bermuatan IpTek umumnya diangkat dari sebuah novel. Di bidang kedokteran atau medical, misalnya orang mengenal penulis Robin Cook, yang banyak menulis cerita konspirasi di dunia medik. Buku-buku Robin Cook memang sarat dengan muatan informasi medik yang cukup “advanced”, mulai dari kasus penyakit menulart, senjata biologi, sampai rekayasa genetika.

Yang relatif lebih baru adalah Patricia Cornwell, yang menulis cerita sekuel detektif forensik semacam film seri CSI tetapi lebih realistis dan lebih “dalam”. Membaca buku Patricia, kita akan mendapat cukup banyak informasi dunia forensik yang cukup akurat dan realistis.

KRI Teluk Bayur

KRI Teluk Bayur

KRI Teluk Bayur

KRI Teluk Bayur merupakan jenis kapal LST yang oleh TNI AL juga digunakan sebagai kapal pengangkut pasukan. Daftar inventaris kapal-kapal TNI-AL a.l. dapat di lihat di  wikipedia . Gambar ini sekedar menambahkan data pada sebuah essay tulisan Alfian Hamzah yang dimuat di blog  fordilante.wordpress.com  berjudul: “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” yang memaparkan pengalaman personil TNI yang ditugaskan dalam operasi militer di Aceh. Tulisan ini tidak hanya memaparkan segi-segi militer dari operasi tersebut, tetapi juga segi-segi yang manusiawi dari prajurit yang terlibat.

Aksara Jawa & Bali

Aksara Jawa
Aksara Bali

Situs di bawah ini menyediakan tambahan font untuk beberapa jenis aksara bukan alfabet, termasuk aksara Jawa. Mungkin supaya bisa digunakan di Microsoft Word atau Power-point. Ini dibuat seorang bernama Jason Glavy yang memang meminati berbagai tulisan non-alphabet di Asia, misalnya:

  1. Aksara Jepang
  2. Aksara Jawa
  3. Aksara Bali
  4. Aksara Kamboja
  5. Aksara Vietnam
  6. Aksara yang digunakan di Tibet

Silahkan Click di sini

Pancasila dalam bhs Arab :-)

 ۞ القواعدة الخمسة ۞

 

الإيمان بالإله الواحد
 
۱
والإنسانية العادلة والمتحضرة ۲
وحدة اندونيسيا ۳

والديمقراطية التي تهتدي بحكمة في الإجماع الناشئة من المداولات بين الممثلين
۴

والعدالة الاجتماعية لعموم الشعب الاندونيسى
۵