ini salah satu foto bapak-ibu yang ‘survive’ sampai di dunia cyber. waktu itu saya afdruk/perbesar sendiri ukuran double-postcard. Sayangnya aku hanya punya persediaan kertas foto ukuran postcard. Jadi terpaksa kugunakan 2 buah kertas foto postcard untuk meng-capture image dari alat pembesar. Sayangnya yg ketemu saat ini cuma kertas foto postcard bagian yang atas saja |
|
ini sepertinya foto tahun 1974 an. TV merk ‘Sharp’ hitam putih di background itu mrpk ‘electronic gadget’ kesayangan keluarga, kalau gak salah masih menggunakan teknologi tabung elektron kayaknya buatan 1960 an, dibeli sejak tahun 1971, 2nd hand |
foto keluarga jadul :-)
Desember 24, 2009 pada 1:47 pm (Foto)
rekaman video pada mahkamah pamungkas
November 7, 2009 pada 1:25 pm (Uncategorized)
Menanggapi kasus konflik legal dan politik antara Polri dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), ada yang menulis artikel renungan yang cukup menarik seperti di bawah ini.
Di sadap seperti Anggodo
Sumber: tulisan dari facebook
|
pocket camera & disposable flash lamp
September 10, 2009 pada 3:34 pm (Fotografi)
salat tarawih selebritis se nusantara
September 10, 2009 pada 3:22 pm (Foto)
Tags: marvel, masjid demak, selebritis, sholat tarawih, sunan kalijaga
Dari sebuah posting di facebook saya menemukan sebuah karya lukisan yang nampaknya berasal dari jaman kerajaan Demak di Jawa di abad 15/16. Lukisan ini memperlihatkan adegan ketika Sunan Kalijaga memimpin sholat Tarawih berjamaah di Masjid Demak. Pada lukisan terlihat pamandangan bagian dalam/interior Masjid Demak: tiang, belandar/palang, kasu usuk, dan atap sirap sebuah bangunan berarsitektur Joglo. Yang juga unik, di belakang sang Sunan nampak para makmum, terdiri dari para “selebritis” yang sudah sangat terkenal tampak tekun mengikuti sholat Tarawih
.
teknik fotografi utk science lab
September 3, 2009 pada 4:33 pm (Fotografi)
Memperhatikan beberapa foto maupun video Profil 50 tahun ITB yang dibuat saat ini, meskipun sudah cukup bagus, namun mungkin ada beberapa butir saran untuk peningkatan bagi pembuatan versi-versi berikutnya:
(1) Pemilihan sudut pengambilan dan penggunaan lensa sudut lebar
Menurut yang saya amati, sudut pengambilan yang dipilih pada pembuatan video “profil 50 tahun itb” mungkin belum begitu optimum, belum nampak bisa menonjolkan kesan keindahan pandangan perspektif bangunan-bangunan di kampus. Sebagai perbandingan, saya menemukan kumpulan foto-foto kampus yang dibuat seorang alumnus itb yang sudut pengambilannya saya lihat “lebih optimum”:
http://irfanchemist.wordpress.com/2009/06/23/itb-campus
Di samping itu, penggunaan lensa sudut lebar (wide angle lens) untuk obyek-obyek tertentu baik bagian exterior maupun interior bangunan mungkin akan lebih bisa menonjolkan keindahan perspektifnya. Di bawah ini saya cantumkan contoh foto (dari internet), yang satu menunjukkan sebuah gang/koridor, yang bisa dijadikan referensi untuk men “shoot” koridor-koridor di dalam lab maupun di luar bangunan kampus ITB. Gambar yang satu “mengingatkan” saya pada pemandangan interior aula barat, jadi mungkin bisa dijadikan acuan untuk memilih sudut pengambilan yang optimal, misalnya pada saat acara-acara tertentu di aula barat.
|
![]() |
(2)Teknik Pencahayaan
Yang kedua adalah mengenai teknik pencahayaan untuk foto-foto di dalam ruang laboratorium. Saya sudah cukup sering memperhatikan foto-foto lab yang dibuat untuk brosur lembaga-lembaga riset terkemuka ataupun produsen peralatan lab hitech, yang seringkali menggunakan teknik pencahayaan yang khusus untuk lebih menonjolkan kesan “scientific” ataupun “hitech”
Ini misalnya dicapai dengan menggelapkan ruangan, lalu menambahkan cahaya dengan warna-warni tertentu, umumnya warna biru sebagai warna latar, di tambah warna merah. Kadang-kadang warna hijau berpendar/flourosence digunakan jika obyek yang ditampilkan memang sesuai, misalnya senyawa organik tertentu yang mempunyai efek berpendar.
(3) Efek “CSI”
Kalau kita perhatikan adegan-adegan di dalam film seri TV CSI, akan sering kita jumpai adanya koleksi zat-zat kimia atau reagents yang warna-warni di dalam “lab. forensik” yang digunakan. Tentu saja zat-zat ini hanya bohong-bohongan (fake) , yang mestinya kurang tepat untuk ditiru di dalam pembuatan video profil sebuah lab/lembaga riset beneran
. Tetapi tidak ada salahnya memilih zat-zat kimia (reagen) yang beneran yang warnanya memang menarik, seperti spiritus atau zat organik yang berpendar. Keempat foto di bawah ini memperlihatkan pemandangan atau adegan di dalam sebuah laboratorium forensik atau di TKP, 3 di antaranya dari film serial TV CSI. Dapat dilihat secara jelas penggunaan cahaya warna biru dan kuning yang dominan untuk menonjolkan kesan suasana “scientific”.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Paskibraka Timor Leste :-)
Agustus 31, 2009 pada 5:51 pm (Dokumentasi)
Tags: hut kemerdekaan, paskibraka, timor leste, upacara bendera
Foto-foto di bawah ini, saya ambil dari website-nya Dept. Hankam nya Aussie menggambarkan suasana upacara peringatan Hari Kemerdekaan Timor Leste yang ke 7 (sejak pernyataan kemerdekaan resmi tahun 2002), atau yang ke 10 (sejak jajak pendapat tahun 1999). Yang cukup menarik, pada upacara tersebut juga digunakan Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka).
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Peta “United States of Indonesia” 1946
Agustus 29, 2009 pada 2:04 pm (Sejarah)
Tags: 1946, hindia belanda, indonesia, proklamasi, sukarno, time magazine, van mook
Di perpustakaan universitas kebetulan ada arsip majalah terbitan lama, misalnya bundel majalah Time sejak tahun 1930 an sampai dengan tahun 1970 an. Majalah Time terbitan 23 Desember 1946 mencantumkan gambar Ir. Sukarno sebagai gambar sampul dan memuat artikel mengenai keadaan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan yang bahan utama nya berasal dari tulisan Robert Sherrod, koresponden majalah Time di Batavia, yang dikirim melalui kawat waktu itu. Salinan gambar sampul maupun artikel sepanjang 4 halaman tersebut sudah saya pindai dan saya cantumkan di bawah ini.
Ada beberapa hal yang menarik dari artikel ini yang bisa jadi tidak semua bisa kita peroleh dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah Indonesia atau dari arsip-arsip yang ada di dalam negeri, misalnya:
- peta “defacto Indonesia” pada tahun 1946, 1 tahun setelah Proklamasi, di mana Belanda yang dengan perasaan terpaksa mengusulkan kompromi, agar kemerdekaan Indonesia dilakukan secara bertahap, di mana pada tahap itu wilayahnya hanya terdiri dari Jawa, Sumatera, dan Madura (mengenai perkembangan wilayah/peta “de facto” Indonesia 1945-1963 memang di cantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah).
- pendapat Robert Sherrod bahwa lagu “Indonesia Raya”, irama nya sebagian “menjiplak” dari lagu yang sudah ada: “Boola-Boola” (lagu Belanda?)
- dan mungkin yang paling penting, menjawab pertanyan hipotetik: Apakah setelah memprokamirkan kemerdekaannya waktu itu bangsa Indonesia benar-benar kelihatan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara mandiri? koresponden Robert Sherrod menjawab sendiri pertanyaan itu: “They have done surprisingly well, and with some assistance – Dutch or otherwise – I think they can.” Bahkan Van Mook sendiri mengatakan bahwa selama 5 tahun terakhir tersebut (1941-1945) bangsa Indonesia nampak mengalami proses pematangan yang cepat, yang bahkan belum pernah teramati selama 50 tahun sebelumnya.”
- ada juga catatan sejarah yang bisa mengundang senyum: Perdana Menteri Syahrir waktu itu sempat menjalin hubungan akrab dengan John McKerreth, konsul jenderal Inggris. Ketika pasukan Inggris akhirnya ditarik dari Indonesia, Syahrir menyampaikan penghargaanya kepada Inggris sambil “menyentil” Belanda: “You introduced to our country some attractive traits of western culture that our people have rarely seen before from the white people they know: your politeness, kindness, and dignified self-restrain …” Ketika Van Mook, sebagai wakil bangsa Belanda kelihatan tersinggung dikatakan sebagai “less civilized” ketimbang Inggris, Syahrir dengan kalem menjawab, yang kira-kira bunyinya: “don’t worry meneer.” “Pokoknya kalo pasukan sampeyan nanti mau angkat kaki dari Indonesia, Belanda bakal gue puji setinggi langit deh, melebihi bangsa Inggris .. ”
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |


































